Posted by : Qie October 13, 2011

Kelompok Sosial
Manusia dapat disebut juga sebagai “social animal”, memiliki dua hasrat, yatu bersatu dengan manusia laindan bersatu dengan sekeliling. Manusia mempunyai pikiran, perasaan, dan kehendak untuk memenuhi kehidupannya dalam social group. Manusia merupakan hasil dari faktor keturunan dan lingkungan. Dalam hidupnya manusia sangat tergantung pada manusia lain, terutama keluarga selaku kelompok inti. Selanjutnya, famili/marga, desa, suku, dan seterusnya. Mula-mula di antara mereka berlaku aturan kekeluargaan, tata pergaulan, kemudian menjadi hukum civil hokum tentang hubungan pertalian antara sesamanya).
Himpunan manusia dalam kehidupan bersama yang timbal balik itulah yang disebut kelompok sosial. Jadi, kelompok sosial tersebut mempunyai syarat-syarat, yaitu sebagai berikut.
a.       Ada kesadaran setiap orang selaku anggota kelompok, bahwa dia merupakan bagian kelompok yang bersangkutan.
b.       Ada hubungan timbale balik antaranggota yang bersatu dengan anggota lainnya dalam kelompok itu.
c.       Ada faktor pengikat yang dimiliki bersama oleh anggota-anggota kelompok itu, seperti rasa senasib, kepentingan, atau tujuan yang sama, ideology, dan sebagainya.
d.      Berstryktur dengan memiliki pola perilaku yang sama.

Kelompok sosial dapat dibagi atas dua bentuk, yaitu:
·   Kelompok sosial kecil, seperti keluarga, siswa satu sekolah, desa, dan sebagainya.
·   Kelompok sosial besar, seperti kota, bangsa, meskipun tidak saling kenal, namun sadar pada kepentingan bersama.




3
Ada kelompok sosial yang kompleks, di mana seseorang sekaligus menjadi anggota kelompok sosial lain, seperti kelompok sosial atas dasar gabungan kekerabatan usia, sex, bidang pekerjaan, kedudukan, dan sebagainya. Secara umum kelompok sosial dapat diklasifikasikan sebagai berikut:                     
·         In group dan out group; hal ini terdapat dalam segala lapisan masyarakat, seperti Rukun Tetangga (RT), Rukun Warga (RW), kelas siswa, pegawai negeri-swasta, dan sebagainya.
·         Primary group dan secoundary group; kelompok itu menjadi primer karena masih saling kenal. Sekunder karena sifatnya yang didasari kerja sama atas hitungan untung rugi.
·         Gemeinschaft dan gesellschaft; dikatakan gemeinschaft karena didasari ikatan batin yang bersifat alamiah. Sedangkan gesellschaft karena ikatan lahiriah yang mekanis, seperti perjanjian dagang, anggota organisasi, karyawan, dan sebagainya.
·         Formal group dan informal group; kelompok sosial menjadi formal karena sistem hubungan itu sengaja diciptakan, maka setiap orang dalam organisasi itu karena pertemuan berulang-ulang secara pribadi, maka disebut informal atau biasanya disebut clique.
·         Membership dan reference group; kelompok sosial ini disebut reference group karena berusaha mengidentifikasikan dirinya pada kelompok di mana ia bukan anggota, misalnya orang yang tidak berhasil menjadi mahasiswa mencoba berperilaku mirip mahasiswa.

Ada juga kelompok sosial yang tidak teratur, yakni kerumunan (ukuran kecil) dan public (ukuran besar). Kerumunan terjadi apabila sejumlah orang berada di satu tempat karena suatu perhatian ataupun kepentingan tanpa ikatan hubungan, seperti di bioskop, di pasar, di stasiun kereta api, dan sebagainya. Kerumunan sirna jika orangnya bubar. Kadang kala kerumunan berubah situasi menjadi massa dan bahkan ada yang cenderung menyerang atau merusak. Cirri-ciri massa ialah:
§  Adanya sejumlah orang berada di stu tempat,
§  Terjadi sesuatu peristiwa yang mengalihkan dan menyita perhatian,
§  Kesadaran individu menurun secara drastis,
§  Perasaan yang sama melanda semua orang,
4
§  Timbul jiwa massa sesuai dengan sifat peristiwa, misaknya massa yang marah, panic, ketakutan, gembira, sedih, duka, dan sebagainya.

Kerumunan dapat pula dibedakan sebagai berikut;
a.       Kerumunan yang berartikan pada struktur sosial, dapat dibedakan;
1.       kerumunan Formal, seperti penonton atau pendengar di lapangan.
2.       kerumunan Ekspresif, yaitu orang berpesta, berdansa, dan sebagainya.
b.   Kerumunan yang sementara, dapat dibedakan atas:
1.   Kerumunan memperebutkan fasilitas atau keperluan, seperti antri karcis, antri belanja, dan sebagainya.
2.   Kerumunan panic, misalnya berhamburan menyelamatkan diri karena ketakutan atau dorongan-mendorong.
3.   Kerumunan saksi peristiwa, yaitu kerumunan terjadi karena menyaksikan sesuatu peristiwa, di mana para penonton peristiwa itu tidak direncanakan.
c.    Kerumunan yang berlawanan dengan public, dapat dibedakan atas:
1.       kerumunan emosional karena merasa tertekan atau tertindas.
2.       kerumunan immoral, kerumunan yang terbentuk karena orang-orang yang tidak beretika umum, sperti kelompok pemabuk, pecandu pil ekstasi, narkotika, morfin, dan sebagainya.

Kelompok kecil ialah sedikitnya dua anggota salaing berhubungan guna mencapai tujuan khusus. Kelompok kecil selalu ada dalam setiap kelompok sosial. Hal itu mengingat adanya perbedaan pendapat atau kepentingan seseorang yang tidak sama dengan kelompoknya (umum).
Dinamika sosial: kelompok sosial senantiasa berubah (dinamis) karena manusia itu sendiri dinamis. Sewaktu-waktu terjadi proses formasi atau reformasi, baik karena pengaruh luar maupun dari dalam. Pengaruh luar berupa perubahan situasi sosial ekonami atau tekanan kuat dari luar. Pengaruh dari dalam berupa gejala konflik yang senantiasa terjadi bila timbul ketidak sinambungan dalam kelompok, baik perihal kekuatan, kepentingan, keadilan, maupun perbedaan paham.


5
Selama konflik dibatas kendali nilai persatuan dan kepemimpinan, mak akhir suatu konflik adalah suatu kestabilan baru. Kadang kala suatu konflik dapat dihilangkan dengan mengadakan kambing hitam atau bila sedang menghadapi musuh atau ancaman dari luar.

A. Masyarakat Pedesaan dan Perkotaan
Masyarakat di kota ditandai dengan kondisi tatanan nilai yang heterogen. Mereka terdiri badri berbagai suku, agama, adapt istiadat, menjalankan fungsi pusat administrative dan pusat komersial, dan bahkan pusat konsentrasi kegiatan yang sekaligus menjadi indicator modernisasi dan kekayaan negeri. Berbagai bentuk penimbunan modal berlansung di kota. Hal itulah sebabnya kota dipandang tumpuan harapan orang desa sehingga timbul urbanisasi. Mereka terhalau ke kota karena kekejaman penghidupan dan keadaan yang tidak aman di pedalaman. Timbul berbagai bentuk kejahatan sebagai akibat tekanan kegagalan dalam suatu perjuangan hidup. Pemerintah kota tidak mampu mengasimilasikan kaum urban, sehingga pendatang baru dirasakan sebagai sumber kerawanan dan keresahan masyarakat kota.
Demikianlah warga kota semakin dinamis dan bertindaksemakin rasional menggunakan ruang dan waktu. Kegiatan sehari-hari pun semakin efisien yang menjurus pada automatisasi. Dalam proses kehidupan sehari-hari berlangsung seleksi alam berupa kompetisi prestasi manusia, sehingga hampir setiap orang sibuk bekerja, belajar, berorganisasi, dan sebagainya. Akibatnya, tanpa disadari tumbuh subur nilai individualis.

B. Rural Community dan Urban Community
Analisis terhadap masyarakat setempat (rural community) selalu tentang hubungan-hubungan sosial yang berlaku (social relations), interaksi sosial yang dialami anggota masyarakatnya dan perasaan semasyarakat yang ditunjukkan. Kondisi masyarakat di desa dan di kota semakin kontras seiring dengan perkembangan suatu kota, apalagi jika didukung proses pemerataan pembangunan dan informasi.
Urbanisasi terjadi karena faktor situasi desa yang mendorong warganya meninggalkan desanya dan faktor daya pikat kota yang menarik orang desa pindah menetap atau musiman. Biasanya kondisi desa yang menyebabkan penduduknya melakukan urbanisasi adalah:

6
a.       lapangan pekerjaan yang sangat minim atau terbatas,
b.   warga desa (terutama pemuda) ingin membebaskan diri dari belenggu adapt istiadat yang ketat dan monoton,
c.    mereka yang mempunyai keahlian selain bertani ingin mengembangkan karir di kota,
d.   kesempatan menambah ilmu di desa sangat terbatas.

Biasanya kondisi kota  yang memungkinkan penduduk desa terangsang berpindah ke kota adalah sebagai berikut:
a.    di kota banyak kesempatan pekerjaan sebagai akibat kreativitas banyak orang.
b.   kota praktis menjadi serba pusat aktivitas, seperti pusat pemerintahan, perdagangan, administrative, industri, dan sebagainya.
c.    kota menghimpun modal usaha yang lebih besar dan terkonsentrasi.
d.   kota memberikan peluang tidak terbatas untuk mengembangkan jiwa dan potensi orang.

akibat negative urbanisasi adalah:
a.    penganguran tak terkendali,
b.   kriminalitas meningkat,
c.    gelandangan meningkat,
d.   anak-anak terlantar bertambah,
e.    nilai rekreasi dan hiburan menurun,
f.    tindak penghisapan sesama manusia.

Menurut weber, dalam masyarakat modern kita menjumpai suatu sistem jabatan yang dinamakannya birokrasi. Organisasi birokrasi mengandung sejumlah prinsip yang tidak dijumpai dalam masyarakat.





7
2.2. Proses Dan Interaksi Sosial
Proses sosial adalah hubungan pengaruh timbale balik antara berbagai segi kehidupan bersam. Pengertian ini sangat luas, karena menyangkut perihal nyata dan tidak tampak menggejala. Proses sosial yang dibahas hanya nyata, yakni interaksi sosial berupa hubungan pengaruh yang tampak dalam pergaulan hudup bersama. Tanpa interaksi sosial tidak mungkin ada kehidupan masyarakat. Interaksi sosial terjadi antara seseorang dengan orang lain, antara seseorang dengan kelompok sosial, dan antara kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya.
Interaksi sosial dapat terjadi apabila:
·   ada kontak sosial, dan
·   ada komunikasi.
Kontak sosial merupakan usaha pendekatan pertemuan fisik dan rohaniah. Kontak sosial dapat bersifat primer (berjumpa face to face) dan dapat sekunder (berhubungan melalui media komunikasi, baik perantara orang maupun media benda, surat kabar, TV, radio).
Bentuk-Bentuk Interaksi Sosial
Bentuk interaksi sosial dapat berupa sebagai berikut.

A. Kerja Sama (Cooperation)
Bentuk dan pola kerja sama dapat dijumpai dalam semua kelompok sosial. Kerja sama timbul karena orientasi orang terhadap kelompoknya, maka harus ada kondisi pembagian kerja yang serasi dan imbalan yang jelas. Kerja sama akan bertambah kuat apabila ada ancaman dari luar atau sesuatu yang menyinggung nilai kesetiaan, adapt istiadat dari kelompok tersebut.
Ada tiga bentuk kerja sama, yaitu:
a.    Bergaining, yaitu pelaksanaan perjanjian mengenai pertukaran barang dan jasa antara dua organisasi.
b.   Cooptation, yatu proses penerimaan unsur  baru dalam kepemimpinan suatu organisasi guna menghindari goncangan stabilitas organisasi tersebut (saling mendukung).
c.    coalition, yaitu kombinasi dari dua organisasi yang mempunyai tujuan sama sehingga bersifat kooperatif.
8
B. Akomodasi (Accomodation)
Akomodasi digunakan dalam dua arti, yaitu menunjukkan pada suatu keadaandan untuk menunjukkan pada suau proses. Akomodasi merupakan suatu cara untuk menyelesaikan pertentangan tanpa menghancurkan pihak lawan, sehingga lawan tersebut kehilangan kepribadiaannya. Tujuan akomodasi adalah untuk mengurangi pertentangan manusia akibat perbedaan paham, untuk mencegah meledaknya suatu pertentangan, usaha untuk memungkinkan adanya kerja sama antar kelompok sosial, dan usaha untuk melebur antara kelompok-kelompok sosial yang terpisah. Bentuk-bentuk akomodasi sebagai proses adalah:
1.   Coertion, ialah akomodasi yang dilaksanakan karena paksaan.
2.   Compromise, suatu pihak bersikap untuk bersedia merasakan dan mengerti keadaan, pihak lainnya dan sebaliknya.
3.   Meditation, melibatkan pihak ketiga dalam menyelesaikan masalah secara damai dengan peranannya sebagai mediator.
4.   Concilliation, suatu usaha mempertemukan keinginan-keinginan pihak-pihak yang berselisih guna tercapainya tujuan bersama.
5.   Toleration, suatu bentuk akomodasi tanpa persetujuan formal bentuknya, didasari oleh watak manusia yang tidak berkeinginan munculnya konflik.

C. Persaingan (Competition)
Persaingan merupakan proses sosial, di mana seseorang atau kelompok sosial bersaing memperebutkan nilai atau keuntungan bingan kehidupan melalui cara-cara menarik perhatian public. Bentuk-bentuk persaingan, yaitu:
1.   Persaingan ekonomi, yaitu usaha memperebutkan barang dan jasa dari segi mutu, jumlah, harga, dan pelayanan.
2.   Persaingan kebudayaan, yaitu usaha memperkenalkan nilai-nilai budaya agar diterima dan dianut.
3.   Persaingan Status Sosial, yaitu usaha mencapai dan memperebutkan kedudukan dan peranan yang terpandang, baik oleh perorangan maupun oleh kelompok sosial.
4.   Persaingan ras, yaitu persaingan kebudayaan khas yang diwakili cirri ras selaku perlambang sikap beda budaya.

9
D. Pertikaian (Conflict)
Pertikaian merupakan proses sosial di man seseorang atau kelompok sosial berusaha memenuhi tujuannya dengan jalan menantang lawannya dengan ancaman atau kekerasan. Pertikaian terjadi karena perbedaan dipertajam oleh emosi/ perasaan, apalagi didukung pihak ketiga. Adapun sebab-sebab terjadinya pertikaian adalah:
1).  Perbedaan budaya yang melatarbelakangi  sikap atau pendirian kelompok yang menyebabkan pertentangan antarkelompok.
2).  Perbedaan pendirian atau sikap yang tidak terkendali oleh akal.
3).  Bentrokan kepentingan, misalnya bidang ekonomi, politik, dan sebagainya.
4).  Perubahan sosial yang diiringi perubahan sikap tentang nilai tertentu sebagai akibat perubahan atau disorganissi.

Dalam setiap kelompok sosial selalu ada benih-benih pertentangan, namun setiap kali terjadi konflik dapat menjadi reda jika ada sikap toleransi dan interaksi sosial guna memelihara hubungan. Secara umum, konflik merupakan wujud kegairahan sosial, di mana konflik biasanya menghasilkan keseimbangan dan penyesuaian menyusul suatu perubahan.
Dalam kelompok sosial berstruktur terbuka, misalnya seminar, sengaja diciptakan konflik agar diperoleh berbagai masukan. Hasil dari suatu konflik dapat berupa:
·         Solidaritas bertambah,
·         Persatuan retak atau hancur,
·         Perubahan kepribadian atau sikap,
·         Akomodasi atau dominasi.

Bila kekuatan pihak yang bertikai berimbang dan disusul perubahan sikap dan penyesuaian diri pada kondisi perubahan, maka disebut akomodasi. Jika kekuatanb tidak seimbang, lalu pihak terkuat atau terbesar memaksakan pendiriannya, maka  disebut dominasi. Konflik dapat berupa:
·         konflik pribadi,
·         konflik rasial dan kebudayaan,
·         konflik antarkelas sosial,
·         konflik politik dan pengaruh
·         konflik internasional.
10
Dalam pergaulan hidup sehari-hari, baik seseorang maupun kelompok sosial dengan kelompok sosial lainnya dapat berlangsung interaksi sosial. Taraf lanjutan disebut asimilasi. Faktor yang mendukung proses asimilasi adalah:
·         sikap toleransi dan menghargai kebudayaan orang lain,
·         adanya unsur persamaan dalam nilai budaya,
·         peluangbidang ekonomi yang berimbang,
·         sikap terbuka penguasa dan tokoh masyarakat,
·         perkawinan campuran,
·         adanya musuh bersama dari luar.

Interaksi sosial dapat mengarah kepada proses asimilasi. Hal ini dapat berupa:
·         interaksi sosial yang bersifat salaing ada pendekatan,
·         interaksi sosial yang bersifat langsung primer,
·         interaksi sosial yang lancar dan tidak ada hambatan atau batas,
·         interaksi sosial yang sering, intensif, dan sehari-hari.

Apabila asimilasi antara dua kelompok sosial yang berbeda budaya berlangsung sedemikian rupa sehingga saling menerima unsur budaya lainnya menjadi adapt istiadat baru, keadaan ini disebut akulturasi. Jadi, dalam akulturasi, unsure budaya lain masuk atau diterima menjadi seolah-olah milki sendiri atau budaya sendiri.

Leave a Reply

Subscribe to Posts | Subscribe to Comments

- Copyright © Me and Creations - Date A Live - Powered by Blogger - Designed by Johanes Djogan -